Praktik Self Help Grup dalam Proses Graduasi Keluarga Penerima Manfaat
Praktik Self Help Grup dalam Proses Graduasi Keluarga Penerima Manfaat
![]() |
Yuk Praktik Self Help Grup dalam Proses Graduasi Keluarga Penerima Manfaat |
Graduasi adalah dimana kepesertaan anggota PKH telah berakhir. Didalam aturan juknis PKH bahwa Graduasi terbagi menjadi 3 kategori yaitu graduasi alamiah, graduasi sejahtera dan graduasi mandiri. Setiap peserta PKH akan mengalami proses graduasi ini. Baik secara alamiah, sejahtera maupun mandiri. Ada berbagai cara dalam proses pendampingan kepada keluarga penerima manfaat (KPM) agar mereka tergraduasi dalam kepesertaan PKH.
Yuk Praktik Self Help Grup dalam Proses Graduasi Keluarga Penerima Manfaat
Memang dalam bisnis proses PKH graduasi adalah tujuan akhir dalam kepesertaan. Namun tidak dalam prses pendampingan dan pengembangan masyarakat. Sebab dalam proses pendampingan ini adalah awal dimana KPM akan mengembangkan potensi diri dan keluarganya tanpa bergantung secara terus menurus pada bantuan sosial PKH ini. Proses ini kadang begitu menyulitkan dikarenakan beberapa faktor yang ada pada KPM PKH. Faktor ekonomi adalah alasan paling kuat kenapa KPM PKH bertahan dengan kepesertaan PKH. Kondisi ini adalah hal yang paling sulit jika KPM PKH sendiri tidak termotivasi untuk merubah diri dan keluarganya. Maka dalam hal ini bantuan sosial PKH menargetkan pendidikan sebagai langkah untuk memutus rantai kemiskinan melalui anak-anak yang bersekolah. Selain ekonomi ada juga faktor mind set atau pola pikir. Mental masyarakat kita saat ini adalah jika mendapat bantuan adalah hadiah dan perlu diambil walaupun kondisinya sudah dikategorikan mampu. Hal ini menyebabkan banyak diantara penerima manfaat yang betah dengan kondisi mereka sebagai KPM PKH. Dan yang terakhir adalah faktor masalah sosial keluarga. Tidak heran jika modul didalam P2K2 begitu spesifik membahas kondisi-kondisi masalah keluarga. Berdasarkan hasil observasi saya dilapangan didapatkan bahwa kebanyakan dari keluarga penerima manfaat ini terkuras energi dan pikirannya dalam menyelesaikan masalah sosial keluarga mereka. Masalah sosial keluarga ini menjadi salah satu faktor yang berpengaruh besar dalam proses peningkatan kualitas keluarga. Masalah-masalah seperti anak putus sekolah, anak nakal, keluarga bermasalah psikologis, perawatan lansia, lansia terlantar, keluarga dengan pekerja imigran dan berbagai masalah keluarga lainnya. Kondisi-kondisi ini menyebabkan para peserta PKH sulit untuk mengembangkan potensi mereka. Bahkan ada juga yang sudah mempunyai potensi usaha harus terhenti dikarenakan sibuk mengurusi masalah-masalah ini.
Proses Graduasi Keluarga Penerima Manfaat
Maka dari hal itu sebagai pendamping sosial saya melihat sangat penting untuk memberikan pendampingan secara khusus. Namun bukan pada pendampingan pada individu dalam tiap keluarga melainkan pendampingan secara berkelompok agar kelompok dari mereka sendiri yang memberikan problem solving kepada sesama dari mereka. Tujuan umum dari pendampingan ini adalah untuk memberikan informasi-informasi terkait bagaimana keluarga bisa mencari solusi masalah mereka dari masalah orang lain serta merubah mind set KPM bahwa masalah yang dihadapi tidak hanya mereka sendiri tapi banyak juga orang lain yang mengalami masalah yang sama. Selain itu tujuan khusus dari kegiatan ini adalah untuk merubah pola pikir mereka, bahwa bantuan sosial diberikan bagi mereka yang mempunyai masalah dan KPM harus meningkatkan pride mereka agar tidak terus menerus dikatakan sebagai orang yang bermasalah. Sehingga tujuan akhirnya adalah keluarnya KPM PKH tidak hanya mampu secara ekonomi namun mampu dalam mengatasi masalah-masalah lainnya. Di dalam metedologi pekerjaan sosial yang pernah saya pelajari ada salah satu teknik di dalam pekerjaan sosial klinis yaitu terapi komunitas atau biasa disebut self help grup. Self help grup adalah salah satu terapi yang digunakan untuk mencari solusi dengan menggunakan anggota grup sebagai role model dalam pemecahan masalah yang dihadapi. Dalam metode klinis, teknik ini sering disebut sebagai terapi komunitas dimana pertemuan kelompok ini adalah saling berbagi informasi dan cerita mengenai bagaimana para anggota kelompok menghadapi permasalahan mereka masing-masing dan menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapi.Teknik ini biasa digunakan oleh para pecandu narkotika dalam mengatasi masalah kecanduan mereka. Di dalam pertemuan kelompok ini para anggota akan menceritakan masalah-masalah mereka dan bagaimana mereka menghadapi masalahnya. Diharapakan agar anggota kelompok akan menjadikan anggota lain sebagi role model dalam mengatasi masalah mereka. Berdasarkan hal diatas pendamping sosial mencoba membuat hal serupa namun pada konteks yang berbeda. Pendamping sosial melihat bahwa pada dasarnya semua masalah itu sama, yaitu bagaimana masalah itu terjadi dan bagaiamana mencari jalan keluarnya. Setiap orang butuh sharing dan mengungkapkan masalah mereka. Sehingga dibutuhkan satu komunitas yang mempunyai masalah yang sama agar bisa saling berbagai rasa dan mempunyai ikatan yang kuat dalam permasalahan yang sama.Pendamping sosial menggunakan terapi ini diibeberapa pertemuan kelompok. Ada empat langkah yang dilakukan pendamping sosial dalam menjalankan teknik ini kepada KPM PKH. Langkah pertama adalah persiapan. Setelah melakukan beberapa kali pertemuan kelompok dengan KPM PKH pendamping sosial melihat bahwa masalah-masalah yang dihadapi KPM PKH tidak terlepas dari modul-modul yang ada di P2K2 sehingga pendamping sosial memilih dan memilah masalah-masalah yang akan dijadikan bahan dalam penggalian masalah dan pengelompokan masalah KPM. Selain itu persiapan tools asesmen seperti instrumen pertanyaan, logistik ( kertas plano, metacard, masking tip dan spidol), serta agenda pertemuan kelompok besar.Langkah kedua adalah melakukan asesmen atau penggalian masalah dari KPM PKH. Asesmen dilakukan secara berkelompok dimana media kegiatan dilaksanakan pada P2K2. Sistem kegiatan yang diguanakan adalah metode partisipasi aktif dari peserta kelompok. Pendamping sosial hanya sebagai fasilitator yang mengarahkan KPM untuk menuliskan masalah-masalah mereka didalam metacard. Sebelumnya pendamping sosial sudah memilah terlebih dahulu prioritas masalah kedalam kertas plano dan menempelkannya di white board atau dinding ruang pertemuan. Setalah itu pendamping sosial memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta pertemuan kelompok dan jawaban mereka di isi kedalam metacard yang sudah disediakan. Pertanyaan yang disampaikan kepada peserta adalah bagian dari proses penggalian masalah dimana KPM PKH akan menjawab sesuai dengan masalah yang sedang dan telah dialami. Masalah yang dituliskan boleh lebih dari satu namun mereka harus mengurutkan masalah sesuai prioritas. Setelah mengisi jawaban pada kertas metacard, KPM PKH harus menempelkan kertas tersebut ke kertas plano yang sudah pendamping sosial tempelkan di papan tulis atau ditembok ruang kegiatan. Seperti penejelasan diatas bahwa masalah yang dituliskan boleh lebih dari satu masalah. Boleh juga mengguanakan lebih dari satu metacard jika masalahnya berbeda dan lebih dari satu masalah. Karena penempelan metacard ke kertas plano harus sesuai dengan masalah yang mereka alami. Hal ini akan memudahkan pendamping sosial dalam memilah kelompok – kelompok masalah yang akan dibentuk dan akan yang dipriortiaskan sebagai pertemuan terapi komunitas. Karena nantinya setiap kelompok yang dibentuk dan berjalan akan sesuai dengan masalah yang dialami para KPM PKH. Namun self help grup ini akan berada di luar pertemuan pemberian modul P2K2 / pertemuan kelomok besar.
![]() |
Praktik Self Help Grup dalam Proses Graduasi Keluarga Penerima Manfaat |
Langkah terakhir adalah melakukan evaluasi dan proses brainstorming. Langkah ini adalah proses yang begitu sulit menurut pendamping. Sebab pada proses ini KPM PKH akan diberikan penyadaran-penyadaran bahwa mereka tidak memerlukan bantuan sosial lagi dikarenakan mereka mampu mandiri dan mereka mampu untuk bangkit dari kondisi yang ada saat ini. Hasil dari evaluasi ini juga akan memperlihatkan potensi dari setiap peserta yang ada. Bagaiamana mereka melakukan strategy coping dalam menghadapi masalah mereka dan juga sebagai potensi bagi pendamping untuk melakukan intervensi agar mereka dapat keluar dari pkh secara mandiri. Memang dari hasil evaluasi tidak banyak yang bisa digraduasi secara mandiri. Namun pendamping bersyukur karena dari hasil ini ada tiga orang KPM yang keluar melalui graduasi mandiri dengan berbagai macam usaha ekonomi yang dimilikinya dan ada juga kpm yang tergraduasi karena sudah sejahtera. Mungkin kegiatan ini belum dapat meningkatkan ekonomi KPM PKH secara aktif dan diperlukan berbagai macam invoasi ekonomi untuk mengembangkan potensi KPM PKH. Namun pendamping menyadari bahwa hal dasar yang perlu dirubah dari KPM PKH adalah mental serta pola pikir mereka agar menjadikan bantuan sosial hanya sebagai pertolongan sementara. Serta menanamkan pemikiran bahwa bantuan sosial diberikan hanya bagi orang-orang yang bermasalah saja. Maka pride dari KPM PKH perlu ditingkatkan agar mereka merasa bukan lagi menjadi orang yang perlu ditolong/orang yang menglamai masalah.
Fadly Yulianto